zonabmi

Beranda Aplikasi Manajemen Estuari dan Pesisir Pantai Optimalisasi Nilai Ekonomi Pesisir Pantai

Optimalisasi Nilai Ekonomi Pesisir Pantai

Optimalisasi nilai ekonomi (real ataupun tanjibel) pesisir pantai adalah suatu cara untuk menghitung keuntungan atau kerugian secara ekonomi dari pemanfaatan daerah pesisir untuk suatu aktifitas tertentu dengan optimal. Berbagai kasus merugikan bermunculan dalam pemanfaatan ruang di pesisir pantai untuk suatu aktifitas tertentu, sementara itu untuk membangun infrastrukturnya telah mengeluarkan waktu dan biaya yang besar. Kasus tersebut pada akhirnya akan muncul klaim ganti rugi dari yang dirugikan dan nilainya tidak sedikit. Atau mungkin bahkan aktifitas tersebut diputuskan untuk dihentikan karena merugikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Tetapi kondisi ini merupakan suatu peluang berharga jika dapat dipastikan bahwa aktifitas tersebut tidak akan merugikan semua pihak.

Sebagai contoh ilustrasi sederhana misalnya, telah terjadi tumpahan minyak dari pipa kilang pengolahan minyak di tepi pantai dan menyebar keberbagai tempat di beberapa kawasan. Pemerintah atau masyarakat mengajukan klaim ganti rugi. Nilai dari klaim ganti rugi tersebut perlu dioptimalkan (bukan dimaksimalkan atau diminimalkan) dengan cara misalnya tumpahan minyak tersebut mengenai pantai berpasir dibeberapa kawasan dimana pantai berpasir tersebut memiliki fungsi ekologis, ekonomis langsung maupun estetika. Nilai klaim ganti rugi tersebut akan berbeda-beda jika pasir tersebut berada di kawasan pariwisata, kawasan lindung, kawasan pemukiman atau kawasan pantai yang menghadap laut terbuka dengan energi laut yang besar. Tentunya perhitungan optimalisasi nilai ekonominya akan berbeda. Nilai pasir di kawasan pariwisata dihitung kerugiannya berdasarkan menurunnya kunjungan wisatawan, di kawasan lindung dihitung berdasarkan organisme yang mati, di kawasan pemukiman dihitung berdasarkan kerugian masyarakat yang terkena dampaknya sedangkan nilai pasir di laut terbuka tentunya akan lebih murah karena dampak tumpahan minyak akan cepat hilang dengan energi laut laut besar. Pada intinya bahwa masing-masing obyek di pesisir pantai akan berbeda tergantung obyek tersebut berada di kawasan mana. Contoh lain, jika seorang pengusaha akan membangun kilang minyak di pesisir pantai dimana kawasan sekitarnya terdapat kawasan lindung, maka harga tanah tersebut secara tanjibel akan mahal jika pengusaha tersebut memilih dilokasi ini, meskipun harga realnya sangat murah. Pertimbangannya karena jika terjadi kecelakaan tumpahan minyak maka klaim ganti rugi untuk pemulihan kembali (cost recovery) kawasan lindung ke pemerintah akan besar. Lainnya halnya jika pengusaha tersebut akan membangun industri pariwisata, maka harga real tanah tersebut memang seharga tanah yang murah dan pengusaha tersebut untung mendapatkan harga yang secara real dan tanjibel murah.

Teknologi pemodelan dapat membantu memprediksi kalkulasi ekonomi dengan cepat secara lebih kuantitatif berapa kerugian yang harus dibayarkan karena secara kuantitatif pula dapat dihitung berapa luas areal yang terkena dampak limbah dan nilai konsentrasinya. Begitu pula teknologi pemodelan laut dapat membantu perencanan pemanfaatan ruang pesisir untuk suatu aktifitas tertentu dengan mengkuantifikasikan optimalisasi nilai ekonomis (real maupun tanjibel) suatu obyek di pesisir pantai, sehingga tidak terjadi kesalahan pemilihan lokasi.

Modul modul model Hidrodinamika digunakan untuk mensimulasikan sirkulasi arus dan tinggi muka laut. Modul model Adveksi-Dispersi digunakan untuk mensimulasikan bahan pencemar terlarut. Sedimentasi dimodelkan dengan modul model Pergerakan Sedimen Dasar dan Kolom Air dan Pergerakan Partikel. Modul model Morphologi Pantai dan Proses Litoral dan Dinamika Garis Pantai digunakan untuk mensimulasikan perubahan struktur morphologi dan garis pantai. Modul Model Analisis tumpahan minyak digunakan khusus untuk mensimulasikan penyebaran minyak tumpah di perairan pesisir. Modul model Ekosistem digunakan untuk mensimulasi proses interaksi ekologi berserta parameter yang menyertainya. Modul gelombang yang digunakan terdiri dari Gelombang Spektral di Perairan Dangkal, Refraksi-difraksi Gelombang, Gelombang Boussinesq dan Perangkat Analisis Gelombang. Modul model Aliran sungai digunakan secara khusus di perairan pesisir yang terdapat muara sungai dan Modul GIS Kelautan digunakan untuk mengintegrasikan hasil simulasi dengan pemetaan rencana tata ruang berbasis spasial.

Modul model yang dapat digunakan untuk membangun model dengan skenario dan simulasi optimalisasi nilai ekonomi pesisir pantai dapat dilihat pada menu yang terdapat di bagian kanan.