zonabmi

Beranda Analisis Lab Kimia Kutipan Media Penentuan Lokasi Budidaya Laut

Empat Industri Pengolahan Rumput Laut Mulai Dibangun

KKPNews, Makasar – Empat industri pengolahan rumput laut baru berskala medium bakal dibangun di empat kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, masing-masing Kabupaten Bone, Takalar, Luwu, dan Maros. “Industri pengolahan ini menggunakan investasi swasta, dengan nilai investasi minimal Rp15 miliar per kabupaten,” kata Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis yang ditemui usai menghadiri rapat dengan jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel di Makassar, Senin (1/2). Menurut Safari, proses pembangunan ke-empat industri pengolahan tersebut akan dimulai tahun ini. “Dibutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk membangun industri ini,” ujarnya. Nantinya, industri ini akan menyerap bahan baku baik dari Sulsel, maupun dari daerah di sekitarnya. “Hasil produksinya nanti berupa agar-agar dan karagenan,” tambahnya. Sedangkan terkait kapasitas produksi, Safari mengatakan pihak investor tengah melakukan kajian. “Jangan sampai hasil produksi ada tetapi tidak tahu dipasarkan ke mana,” terangnya. Sementara itu Kepala Disperindag Sulsel Hadi Basalamah mengatakan pihaknya bersama ARLI akan membagun industri berbasis kompetensi daerah khususnya industri rumput laut. “Kita akan membuat MoU-nya,” kata dia. Upaya inisiasi hilirisasi industri rumput laut ini diharapkan dapat mendukung program peningkatan ekspor tiga kali lipat. “Ini sejalan dengan program yang dicanangkan Gubernur Sulsel yaitu peningkatan ekspor tiga kali lipat,” katanya.

 

 

Empat Industri Pengolahan Rumput Laut Mulai Dibangun

MD

http://kkpnews.kkp.go.id/index.php/empat-industri-pengolahan-rumput-laut-mulai-dibangun/

 

Perikanan Budidaya: Moratorium Izin Perairan Umum

Pemerintah kembali merencanakan moratorium atau penghentian izin sementara. Moratorium akan diberlakukan untuk izin usaha perikanan budidaya di perairan umum. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto, di Jakarta, Rabu (2/12), mengemukakan, pihaknya sedang menyiapkan perangkat regulasi untuk pemberlakuan moratorium izin perikanan budidaya di perairan umum, seperti waduk, rawa, situ, dan danau. Perangkat regulasi itu berupa peraturan menteri kelautan dan perikanan, yang akan diikuti dengan peraturan daerah. Moratorium izin budidaya akan diikuti oleh penertiban usaha agar sesuai daya dukung perairan umum. Pihaknya mengimbau pemda untuk melakukan zonasi kawasan usaha perikanan budidaya dan moratorium izin usaha pada zona yang tidak boleh ditangkap. "Usaha keramba jaring apung atau usaha budidaya ikan lainnya pada kawasan yang ditujukan bagi pelestarian, izin usahanya tidak akan diperpanjang," ujarnya. Hingga triwulan III-2015, pasokan benih ikan mencapai 80 persen atau sekitar 72 miliar benih. Jumlah benih ikan yang akan ditebar kembali ke alam (restocking) ditargetkan sebanyak 10 juta benih di perairan umum. "Populasi ikan di perairan umum terus menurun akibat waktu dan cara penangkapan yang belum sesuai dengan kaidah. Dengan dikuasainya teknologi pembenihan ikan-ikan lokal, produksi benih yang dihasilkan dapat ditebar kembali ke alam," ujar Slamet. Tahun 2015, target produksi perikanan 17,9 juta ton. Hingga triwulan III-2015, realisasi produksi perikanan budidaya sebesar 10,6 juta ton. Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik mengemukakan, penebaran kembali benih ikan di alam harus merupakan rekayasa ekologis untuk menjawab tantangan krisis ikan di perairan Indonesia. Selama 10 tahun terakhir, sejumlah ikan konsumsi sulit ditemukan di perairan oleh nelayan dan di pasar oleh konsumen. "Kuncinya pada tiga hal, keterlibatan masyarakat secara penuh, kualitas lingkungan yang mendukung, dan aturan pengelolaan yang efektif," ujar Riza.

 

Perikanan Budidaya: Moratorium Izin Perairan Umum

http://www.transformasi.org/id/pusat-kajian/berita/kelautan-perikanan/1357-perikanan-budidaya-moratorium-izin-perairan-umum

sumber: Kompas

 

Pemerintah Klaim Produksi Rumput Laut 2013 Capai 8,2 Juta Ton

"Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim produksi rumput laut Indonesia sepanjang 2013 tercatat 8,2 juta ton atau 9,33% di atas target sebanyak 7,5 juta ton, sedangkan target tahun ini dipatok mencapai 10 juta ton.Coco Kokarkin Soetrisno, Direktur Produksi  Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP mengatakan, angka sementara tercatat produksi rumput laut nasional sebanyak 8,2 juta ton gabungan dari jenis cottonii dan gracillaria. “Jumlah tersebut belum termasuk produksi jenis caulerpa dan sargassum, jadi diperkirakan bisa lebih banyak lagi,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/4). Dia menyatakan, meski target telah terlampaui, tetapi beberapa produsen dari Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta revisi data dan target untuk dinaikkan. Terkait permasalahan produksi, lanjutnya, terdapat beberapa hal yang sedang diperbaiki. “Permasalahan sebenarnya adalah semua pemain  kita bersifat pedagang. Beli di harga murah, lalu dijual mahal,” ungkapnya. Menurutnya, hal itu membuat tidak adanya mindset atau pola pikir keberlanjutan. Dia beranggapan, pengusaha tak mau untung sedikit tapi dengan volume yang banyak. Hal tersebut bakal dirubah melalui program kemitraan. “Proses kemitraan saat ini sedang dilakukan karena mereka punya asosiasi hulu, hilir dan tengah yang bekerja sendiri dan kurang sinkron,” tuturnya. Dirinya beranggapan, pelaksanaan kemitraan harus segera dilakukan mengingat pasar rumput Indonesia yang menggiurkan bagi negara lain. Dia mencontohkan, Filipina dan China sudah bertekad masuk produksi dan membeli di Indonesia. "

 

Pemerintah Klaim Produksi Rumput Laut 2013 Capai 8,2 Juta Ton

Giras Pasopati, 1 April 2014

http://industri.bisnis.com/read/20140401/99/216066/pemerintah-klaim-produksi-rumput-laut-2013-capai-82-juta-ton

Bantuan Industrialisasi Perikanan dari Swiss untuk Indonesia

"Pemerintah RI melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meresmikan proyek kerjasama dengan Pemerintah Swiss di bidang industrialisasi perikanan. KKP akan menerima bantuan hibah senilai 4,5 juta dolar AS untuk proyek yang akan berlangsung selama empat tahun ini. Bantuan yang diterima bukan dalam wujud uang, namun dalam bentuk bantuan tenaga ahli, peralatan, atau jasa. Hibah tersebut diantaranya bantuan teknis untuk peningkatan kapasitas ekspor sektor perikanan Indonesia, yang disalurkan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat of Economic Affairs – Switzerland (SECO). Pemerintah akan memfokuskan pengembangan dan peningkatan nilai jual komoditas-komoditas perikanan strategis agar dapat bersaing di pasar internasional. Beberapa komoditas yang sedang dipertimbangkan antara lain udang, tuna, rumput laut, patin, bandeng, dan pindang. Agar lebih fokus, nantinya hanya beberapa komoditas saja dan lokasi yang akan dikembangkan lebih dalam. Ini merupakan proyek percontohan sehingga bisa direplikasi ke sektor lain jika sukses. Program hibah ini sejalan dengan program industrialisasi yang sedang dikembangkan dan diimplementasikan KKP."

 

Bantuan Industrialisasi Perikanan dari Swiss untuk Indonesia

et/EA/BD, 12 Februari 2014

http://beritadaerah.com/2014/02/12/bantuan-industrialisasi-perikanan-dari-swiss-untuk-indonesia/